Milk (bukan susu)

Tulisan ini bisa jadi membutuhkan sebuah pikiran terbuka untuk membacanya. Buat yang merasa tidak nyaman diskusi terbuka, sebaiknya tidak perlu membaca note ini.

Baru saja saya selesai menonton film berjudul MILK. Awalnya, saya pikir ini film tentang susu, mengingat MILK dalam bahasa Inggris artinya susu. Namun, tidak ada hubungannya dengan susu, MILK ternyata adalah seorang politisi Amerika. Yang belum menonton mungkin bertanya, apa yang menarik dari MILK sehingga kisah hidupnya diangkat ke dalam film yang juga menggondol dua Piala Oscar untuk kategori aktor pria dan penulisanscreenplay ini. Jadi, siapakah MILK?

Harvey Bernard Milk lahir tanggal 22 Mei 1930. Pria ini menjadi politisi yang terbuka akan orientasi homoseksual pertama yang dipilih menjadi anggota badan supervisor kota San Francisco. Bahkan, konon, ini kasus pertama di Amerika Serikat. Di awal film ini diceritakan bahwa Milk awalnya tidak tertarik membuka orientasi seksualnya kepada publik, apalagi kok terjun ke politik dan memperjuangkan pelayanan publik. Namun, beberapa kejadian membuat dia tidak bisa tidak terjun dan membela hak kaum-kaum marjinal, salah satunya adalah kaum homoseksual.

Milk, dan pasangannya Cleve, pindah ke kota San Francisco dari New York City di tahun 1972 ke sebuah distrik bernama Castro. Pasangan homoseksual ini membuat sebuah bar. Tidak lama setelah dibuka, bar ini dikunjungi banyak sekali pasangan homoseksual dan lesbian seantero Amerika. Bisa jadi karena bar ini memberikan pengakuan dan tempat untuk mereka menjadi dirinya sendiri tanpa harus bersembunyi. Lambat laun, komunitas homoseksual dan lesbian pun tercipta. Perjuangan ini tidak tanpa darah, karena banyak orang yang tidak bisa menerima hal ini. Beberapa orang dengan orientasi seksual ini dipukuli, dikerasi, dan bahkan ada yang dibunuh. Padahal, mereka sudah meniup peluit tanda minta bantuan (komunitas ini menggunakan peluit untuk penanda jika mereka butuh ditolong). Hal-hal inilah yang akhirnya membuat Milk ingin membuat perubahan. Dan untuk Milk, perubahan ini harus dari atas. Jadi tidak ada pilihan lain untuk jadi politisi dan masuk ke lingkaran pembuat kebijakan.

Kalau tidak salah, Milk gagal dua kali untuk menjadi anggota badan supervisor San Francisco. Setelah akhirnya Milk sadar bahwa dia harus mengubah gaya berpakaiannya yang kasual, menjadi sedikit formal. Namun, kesibukannya di bidang politik membuat hubungannya dengan Cleve memburuk. Cleve memilih untuk mundur dari manager kampanye di percobaan ketiga. Milk pun tidak punya pilihan lain. Akhirnya dia memilih Anne, seorang lesbian. Didukung dengan tim kampanye yang solid, akhirnya Milk menang di percobaan ketiga, di tahun 1977. Kemenangan Milk bukan hanya ditentukan oleh suara kaum homoseksual dan lesbian, tapi juga kaum marjinal yang lain saat itu seperti orang kulit hitam, orang Asia, dan juga para manula. Sepertinya mereka terwakilkan oleh Milk yang mengedepankan untuk membela kaumnya yang bahkan tidak dianggap manusia normal, manusia sehat, dan dibenci oleh Tuhan, serta pasti masuk neraka.

Perjuangan Milk tentu saja tidak mudah. Dia terus mendapatkan kecaman, terutama dari penganut Kristen yang taat, yang menganggap mereka sudah pasti masuk neraka. Namun, karena Milk percaya bahwa semua orang diciptakan sama di hadapan Tuhan, seperti yang tercantum di Deklarasi Kemerdekaan Amerika, Milk tidak berhenti. Sebelas bulan setelah Milk terpilih, dia berhasil memperjuangkan hak-hak homoseksual dan lesbian di ruang publik, yaitu dalam hal hak keamanan kerja, kepemilikan properti, dan hak-hak lain. Milk diuntungkan dengan dukungan menyeluruh dari walikota San Francisco kala itu, George Moscone.

Namun, menjadi aktivitis, apalagi untuk isu sesensitif homoseksual dan lesbian, punya resiko tinggi, termasuk mati. Seperti bisa ditebak, Milk mati di tangan Dan White, seorang anggota badan supervisor kota San Francisco, yang kecewa karena dia tidak mendapatkan kembali pekerjaannya setelah dia mundur. Juga, saya mendapat kesan dari bahasa tubuh White di film ini, bahwa dia kecewa karena Milk berhasil menggolkan beberapa jihadnya, sedangkan tidak untuk White. White juga membunuh Walikota Moscone, yang tidak mengizinkannya kembali menjadi supervisor kota. Kejadian ini terjadi pada tanggal 27 November 1978.

Film ini ditutup dengan long march para pendukung Milk dan Moscone di jalan dengan membawa lilin. Jalan kesedihan, karena kehilangan dua orang aktivitis yang konsisten. Tapi juga jalan penuh harapan akan masa depan yang lebih baik.

Milk dimainkan dengan apik oleh Sean Penn. Untuk saya, pantas bila dia dianugrahi Oscar di tahun 2008. Penn bermain sangat total, sangat menjiwai menjadi homoseksual. Sangat natural. Penn juga berhasil memukau saya selama 2 jam, dengan bahasa tubuh dan kemampuan aktingnya.

Milk, pastinya memberikan harapan. Karena tanpa harapan, hidup ini tidaklah berharga untuk dihidupi. Harapan bahwa orang-orang marjinal mendapat tempat di dunia ini, terutama kaum homoseksual dan lesbian. Saya tidak mau mengatakan ini salah atau benar, karena saya bukan Tuhan yang bisa menjustifikasi soal ini. Apalagi, saya pernah menonton National Geographic, yang menemukan bahwa orientasi seksual ditentukan oleh hormon-hormon ketika bayi berada di dalam perut ibu. Memang ada yang dipengaruhi lingkungan, tapi kita tidak pernah tahu kemana hidup membawa.

Saya tidak pernah tahu rasanya menjadi homoseksual. Tapi saya banyak melihat contoh bagaimana mereka terpinggirkan di masyarakat atas orientasi seksualnya yang sering dianggap abnormal. Padahal banyak dari mereka luar biasa baiknya sebagai manusia. Sahabat-sahabat homoseksual saya luar biasa baiknya. Mereka juga membayar pajak dan menjalankan kewajiban sebagai warga negara. Tidak mencuri, tidak merampok. Mereka hanya berbeda orientasi seksual.

Saya juga banyak bertemu orang yang menghakimi bahwa para homoseksual akan masuk neraka. Tapi ketika saya coba tanya, bagaimana kalau anak-anak mereka ternyata homoseksual atau lesbian, bagaimana mereka akan bersikap? Terutama jika mereka didiskriminasi dan dihakimi akan masuk neraka? Saya juga masih mencari, bagaimana Allah Ta’Ala menjawab fenomena ini. Bagaimana Tuhan yang Mahapengasih dan penyayang memberikan tempat untuk mereka. Karena saya selalu yakin, bahwa Tuhan saya adalah Tuhan yang menilai hamba-hambaNya dari perbuatan yang mereka lakukan. Bisa jadi juga bahwa yang menghakimi mereka mungkin juga tidak lebih baik dari yang dihakimi. Dan saya percaya, urusan memasukkan orang ke surga atau neraka bukan urusan manusia.

Milk memperjuangkan hak-hak kaumnya di ruang publik. Bahwa para homoseksual seharusnya diafirmasi ketika mengaku dirinya punya orientasi seksual yang berbeda. Milk percaya bahwa mereka bukan kaum yang abnormal, sakit, apalagi cacat. Selama mereka membayar pajak dan melakukan kewajiban sebagai warga negara, mestinya mereka bisa menikmati ruang publik dan fasilitas publik sama dengan yang berorientasi seksual normal (karena disetujui banyak orang saat ini).

Milk memberikan visi untuk menghargai perbedaan. Saya mendadak jadi ingat Gus Dur. Gus Dur yang memperjuangkan damai untuk hidup bersama dalam perbedaan. Dalam pruralisme. Terlepas dari benar atau salah di hadapan Tuhan.

Saya percaya bahwa homoseksual bukan kriminalitas. Karena toh ini ditentukan oleh hormon ketika dalam perut ibu. Tidak ada yang bisa memilih orientasi seksualnya, dalam kasus yang terlahir homoseksual.

Milk, pada 12 Agustus 2009, dianugerahi Presidential Medal of Freedom oleh Presiden Barrack Obama atas jasa-jasanya.

Pendapat tentu saja boleh berbeda. Tapi film ini bisa jadi film yang wajib ditonton, para pemerhati isu hak-hak asasi manusia, para pruralis, para pecinta damai, dan siapapun yang suka nonton film.

Little Rock, 9 Januari 2010 7:22 PM

courtesy of IMDB.com
courtesy of IMDB.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>