Rindu

Kupadatkan rinduku di langit
Agar bisa kamu petik dari sana
Karena kita masih di bawah langit yang sama

Kudidihkan rinduku di sungai
Agar bisa dia mengalir
Memandikanmu
Dan memuaskan dahagamu

Kuuapkan rinduku ke udara
Kuminta matahari pinjamkan sinarnya
Dan kuminta angin tiupkan
Agar hangat kamu
Di musim dingin yang menusuk hati

Kutanamkan rinduku ke tanah
Agar tikus mondok membawanya
Ke bawah kakimu
Sehingga kamu tidak pernah sendiri

Sujudku, Tuhan
Penjaga hati yang tidak pernah ingkar janji

@RDS, Little Rock 1/17 menikmati rindu

Winter sky (by Saiful Azhari)

Menjadi Mayoritas yang Anti Penindasan dan Minoritas yang Pemberani

Indonesia Raya (Google Earth)

Saya tidak pernah memikirkan ini, sampai pergi ke Amerika. Di negara yang mayoritas beragama Kristen dan Yahudi serta berkulit putih, saya mendadak menjadi minoritas karena saya seorang Indonesia, muslim dan berkulit coklat. Saya hampir tidak pernah merasakan bagaimana rasanya hidup menjadi minoritas di Indonesia karena saya orang Jawa yang Muslim dan belum pernah tinggal di banyak tempat dimana saya bisa menjadi minoritas.

Indonesia memang rumah bagi lebih dari 500 suku bangsa dengan 700 bahasa dan berbagai macam agama serta kepercayaan. Namun, karena saya tinggal di pulau Jawa, saya merasa menjadi mayoritas. Apalagi didukung oleh populasi Muslim yang hampir ada di mana-mana sebagai akibat dari 85 persen orang Indonesia beragama Islam (setidaknya begitu menurut sensus). Saya pernah sebentar merasa menjadi minoritas ketika saya berada di Bandung selama 7 tahun tanpa mengerti bahasa Sunda dan di Aceh selama 3 tahun, dimana saya juga tidak mengerti budaya dan bahasa Aceh. Namun ketika saya di Amerika, hal ini lebih terasa lagi.

Menjadi mayoritas di Indonesia tentunya punya banyak kelebihan. Hampir semua makanan yang ditemukan adalah makanan yang halal. Belum lagi, saya juga dimanjakan oleh mesjid dimana-mana. Solat menjadi hal yang mudah dilakukan karena kantor-kantor, mal, dan tempat-tempat publik lainnya menyediakan fasilitas ini. Jangan lupa libur-libur nasional yang berkaitan dengan hari keagamaan. Continue reading “Menjadi Mayoritas yang Anti Penindasan dan Minoritas yang Pemberani”

Tentang Resolusi Tahun Baru

Kembang Api (sumber: http://www.unikunic.com/wp-content/uploads/2010/11/Foto-Kembang-Api-Tahun-Baru.jpg)

Tulisan ini ditulis di awal tahun 2010. Tentang resolusi tahun baru.

Tahun baru biasanya identik dengan yang namanya resolusi. Banyak orang biasanya punya resolusi-resolusi baru yang ingin dicapai di tahun berikutnya.

Sebenarnya apa yang disebut resolusi itu? Sebuah blog (Frans Nadeak) mengartikan bahwa resolusi artinya ketetapan hati atau kebulatan tekad untuk setia melaksanakan apa yang sudah disepakati seseorang dengan dirinya sendiri.

Saya pernah bertanya-tanya kenapa resolusi biasanya dibuat atau digembar-gemborkan untuk dibuat ketika tahun baru itu datang. Kenapa tidak membuat resolusi kapan saja ketika kita berpikir kita ingin membuat sebuah resolusi.

Sejalan dengan waktu, saya menyadari bahwa manusia, ternyata, perlu momen. Dan momen tahun baru, buat banyak orang, adalah momen yang pas untuk melakukan refleksi akan tahun-tahun sebelumnya, mengevaluasi apa yang berhasil dan apa yang belum berhasil, dan membuat strategi baru untuk menaklukkan tahun yang akan datang itu.

Tidak ada teori kapan waktu yang tepat untuk membuat resolusi. Bahkan Stephen R. Covey di bukunya yang terkenal “Seven Habit of Highly Effective People” pernah mengatakan resolusi tahun baru sebenarnya adalah sebuah jebakan. Sebuah euphoria. Orang-orang berharap hidup mereka bisa lebih baik di tahun yang baru, setidaknya bila mereka membuat resolusi. Misalnya saja, orang-orang berharap mereka bisa lebih rajin olahraga di tahun baru. Orang-orang berharap mereka bisa lebih punya waktu untuk keluarga dan orang-orang yang tercinta di tahun baru. Ada lagi yang punya harapan bahwa mereka bisa lebih punya waktu menulis atau mengembangkan hobi di tahun yang baru. Daftar ini bisa lebih panjang lagi, namun pada intinya, orang-orang berharap di tahun baru segalanya akan berubah menjadi lebih baik. Continue reading “Tentang Resolusi Tahun Baru”

Bahagia Itu…

[Kamu pernah bertanya
Bahagia itu apa ya?]

Bahagia itu, [jawabku sok tahu]
Adalah ketika kamu tersenyum lebar kepadaku
Ketika kamu memandang mataku dalam-dalam
dan kecup pipiku dengan lembut

[Kamu pernah tanya lagi
Bahagia itu ada tidak?]

Bahagia itu jelas ada, [jawabku masih sok tahu]
Bahkan Tuhan sudah teteskan ketika Dia berniat menciptakan aku dan kamu
Dan sudah Dia gariskan di saat kita lahir dan belum saling mengenal

[Kamu pernah tanya lagi
Bahagia itu kelihatan dengan mata tidak?] Continue reading “Bahagia Itu…”

Kita, Keras Kepala

Musim telah berganti
Putih salju mencair
Karena hangat mentari menghendakinya
Ditemani sepoi angin musim semi

Musim telah berganti
Tikus mondok sudah berlarian lagi
Bekejar-kejaran dengan tupai
Ditonton burung-burung
Kegirangan karena Tuhan pun tertawa

Musim telah berganti
Namun,

Bercerita tentangmu
Aku tak pernah bosan
Apalagi ketika ditemani rindu
Yang terekam jelas
Pada entah ke berapa ratus cangkir kopi
tanpa kamu ada di sampingku Continue reading “Kita, Keras Kepala”

Aku, di Surga

Bila diciptakan Tuhan
Surga dunia
Maka aku ini sedang ada di dalamnya

Ketika aku masih punya ayah ibu
yang masih sehat
Dan sering tertawa renyah
Dari ujung telpon

Doa mereka pun
Tidak pernah putus

Ketika aku masih punya dua adik cantik
yang masih menyapa
dan terus menjadi teman
di sela-sela kesibukannya

Kasih sayangnya pun
Tidak pernah berkurang Continue reading “Aku, di Surga”

Siapa?

Siapa? (dari http://fos-community.com/wp-content/uploads/2009/04/1147438_question_mark_icon.jpg)

Siapakah yang lebih beriman
Dia yang berkerudung/berjenggot dan menganggap yang tidak berkerudung/berjenggot tidak lebih baik dari dia
Atau dia yang rambutnya panjang tergerai indah sekali atau yang tidak berjenggot tapi tidak pernah berkata jelek tentang saudaranya

Siapakah yang lebih beriman
Dia yang mulutnya penuh bahasa Arab untuk jualan dakwah
Atau dia yang buta huruf tapi terus mengajak kepada kebaikan

Siapakah yang lebih beriman
Dia yang berzakat jutaan rupiah lalu menceritakannya
Atau dia yang miskin tapi menyapu jalan dari duri hingga saudaranya tidak celaka Continue reading “Siapa?”

Tsunami, Enam Tahun yang Lalu

Bertahan (diambil dari http://simpleisperfect.files.wordpress.com/2010/03/masjid-pasca-tsunami-aceh-20041.jpg)

“Gempanya keras sekali, hampir tidak ada yang bisa berdiri atau duduk. Abis gempa, gue masih sempat pulang ketemu ayah, mamak, Wawak Anik, Meutia, Furqan sebelum tsunami terjadi. Tidak lama, orang berlarian dari arah laut dan bilang, ‘air naik, air naik’. Gue ga tau apa yang dimaksud. Air laut bisa naik? Akhirnya kita semua lari. Ayah lari dengan mamak dan Furqan. Wak Arnik lari dengan Meutia. Gue lari naik motor. Masih tergiang ucapan mamak yang minta gue lari sama Furqan.”

Cerita di atas bukan kisah fiksi. Cerita di atas adalah pengalaman pribadi seseorang yang selamat dari tsunami 2004 di Aceh, bencana besar yang menewaskan banyak sekali umat manusia dan mengakibatkan kerugian yang tidak sanggup dihitung dengan jari.

Ini bukan lagi untuk mengulang-ulang cerita-cerita ini untuk menarik simpati, atau membuat hati bersedih lagi. Ini hanya sebuah refleksi perjalanan hidup agar kita bisa terus menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Saiful kehilangan ayah, ibu, dan adik laki-lakinya. Di keluarga besar, dia kehilangan beberapa keluarga. Ada satu keluarga omnya yang hilang semua, bahkan bekas rumahnya pun sudah menjadi bagian dari laut Ulee Lheu. Di keluarga yang lain, ada seorang sepupu yang tinggal seorang diri saja. Dalam 15 menit hidupnya berubah. Air laut menyapu bukan hanya keluarganya, tapi rumah, dan juga memporakporandakan tokonya. Continue reading “Tsunami, Enam Tahun yang Lalu”

Senja Emasku

matahari terbenam, hari mulai malam. terdengar burung hantu, suaranya merdu..

Itu adalah baris lagu Matahari Terbenam (entah benar atau tidak judulnya dan entah siapa pengarangnya). Pastinya, aku adalah pecinta senja, beberapa jenak sebelum matahari kembali tidur di balik ufuk barat. Menurutku, itulah keadaan terindah langit. Pernahkah kau tak sengaja melihat langit, tepat di ujung sore dan di awal malam. Mungkin sekitar jam 5 sore. Jika kau beruntung, kau akan lihat semburat nila bercampur oranye tembaga keemasan menghiasi birunya langit.

Setiap hari, kita memang selalu bertemu senja, bahkan ketika saat hujan turunpun di saat langit gelap. Namun, campuran sempurna antara nila dan oranye tembaga keeamasan tidak setiap hari dapat kau lihat. Hanya ketika kau beruntung, kadangkala begitu.

Mengutip Seno Gumira*, setiap hari ada senja, tapi tidak setiap senja adalah senja keemasan, dan setiap senja keemasan itu tidaklah selalu sama. Senja begitu cepat berubah, memberikan pesona yang menghanyutkan, sebentar, lantas meninggalkan bumi dalam kelam. Senja begitu indah, tapi begitu fana — apakah segala sesuatu dalam kehidupan memang hanya sementara?

Entah kapan aku mulai memperhatikan senja, yang memang tidak pernah setia. Mampir sebentar, memberikan keindahan yang nyaris sempurna, namun cepat menghilang. Maka, bila kau belum pernah sejenak memperhatikan senja, lihatlah langit jam 5 besok sore. Kau akan temukan senja emasku, bila kau beruntung.

*dari Jazz, Parfume dan Insiden; salah satu karya terbaik Seno Gumira Ajidarma

IzinMu, Pintaku

Tuhan,
izinkan aku mencintaMu
pada bulan yang Kau bilang
lebih mulia daripada 1000 yang lain

izinkan aku mencanduMu
dengan dosa-dosaku yang setinggi langit
berharap kasihMu dapat meleburnya

izinkan aku mencumbuMu
dalam lirih doa-doaku
lewat tetesan-tetesan air mataku
dalam tawa-tawaku
juga lewat hembus nafasku

izinkan aku
memintaMu menemani kembaraku
Ramadhan kali ini

C)RDS, Jakarta 041005 8.12am
dalam perjalanan menuju kebayoran..