Perang Untuk Apa: Green Zone

An unjust peace is better than a just war.

Marcus Tullius Cicero


Green Zone bisa jadi hanya sekedar film perang biasa. Tapi buat saya film ini sungguh personal.

Dibintangi oleh Matt Damon, film ini mengambil tempat di Baghdad Irak beberapa saat setelah perang terjadi. Perang

Green Zone (www.imbd.com)

yang dikobarkan Amerika dan sekutu terhadap Irak atas tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal yang katanya dikembangkan oleh Irak dan siap diluncurkan. Tuduhan yang menurut banyak orang, miskin bukti.

Chief Warrant Officer Roy Miller adalah pemimpin kelompok tentara Amerika yang ditugaskan mencari senjata pemusnah massal tersebut. Miller beberapa kali merasa terbohongi oleh intel-intel karena semua tempat  yang katanya terdapat senjata tersebut, ketika didatangi, nihil adanya. Pernah Miller datang ke sebuah tempat. Setelah melalui baku tembak dan sampai di dalamnya, ternyata tempat itu adalah bekas pabrik WC.

Miller tentu tidak tinggal diam. Dalam sebuah rapat koordinasi bersama pemimpin angkatan perang di Irak, Miller mempertanyakan kerja intel yang mencari letak senjata tersebut. Tentu saja dia dan pasukannya tidak mau menjadi sasaran tembak orang-orang Irak ketika mencari senjata tersebut. Dia juga lama-lama curiga jangan-jangan apa yang dituduhkan dunia bahwa keberadaan senjata itu tidak benar adanya, sungguh terbukti. Continue reading Perang Untuk Apa: Green Zone

Kecanduan Perang

Buat yang belum nonton, saya menyarankan agak hati-hati membaca ini, bisa jadi berisi sedikit sinopsis yang mungkin bisa mengganggu ketika belum menonton filmnya.

“The rush of battle is a potent and often lethal addiction, for war is a drug”
Dari buku War Is a Force That Gives Us Meaning, yang ditulis koresponden NY Times Chris Hedges.

Perang bagi Amerika, setidaknya menurut Hedge, adalah ibarat candu. Sebuah pernyataan kuat dan provakatif, setidaknya buat saya ketika menonton film terbaik Oscar 2010, the Hurt Locker.

The Hurt Locker
The Hurt Locker

Film ini menarik dari beberapa segi, salah satunya karena film perang ini disutradarai oleh seorang perempuan bernama Kathryn Bigelow, janda sutradara James Cameron yang film spektakulernya Avatar tidak menang pada Oscar kali ini. Untuk saya pribadi, film ini menarik karena mencoba objektif memperlihatkan bagaimana para penjinak bom anggota militer Amerika Serikat bekerja di Irak. Film ini “berusaha” tidak “memihak” Amerika atau Irak, tapi lebih menggambarkan keadaan yang terjadi di kala itu. Film ini juga membuat saya lebih menyadari lagi tugas berat para tentara di medan laga yang berperang dengan tugas yang sama sekali tidak mudah atas nama “patriotisme” membela kepentingan bangsanya.

Mengambil tempat perang Irak di tahun 2004, film yang skenarionya ditulis oleh Mark Boal, mengisahkan tentang para penjinak bom yang tergabung dalam pasukan U.S Army Explosive Ordnance Disposal (EOD). Fokus film ini sendiri adalah pada kisah tiga orang di tim tersebut: Sergeant First Class William James (yang dimainkan dengan apik oleh Jeremy Renner), Sergeant J.T. Sanborn (dimainkan Anthony Mackie), dan Specialist Owen Eldridge (dimainkanBrian Geraghty). James datang menggantikan Staff Sergeant Thompson yang mati ketika sedang menjinakkan bom. Continue reading Kecanduan Perang