Tentang Nama

What's your name? (sumber: http://akuiniobenk.files.wordpress.com)

Apa arti sebuah nama?

Mungkin pendapat Shakespeare ini ada benarnya. Manusia bisa jadi sudah sangat biasa dengan sistem penamaan, sehingga tidak terlalu memikirkannya. Namun Bung Karno mengatakan sebaliknya. Dia pernah mengatakan bahwa nama, terutama nama orang, diberikan oleh orang (biasanya orang tua) dengan sebuah pengharapan dan doa. Maka nama sangatlah berarti, sebuah identitas pribadi. Mau setuju dengan yang mana, itu terserah Anda.

Cerita ini adalah sebuah pengalaman pribadi ketika saya berada di Amerika. Orang tua saya menamakan saya Ratnasari Dewi. Dalam versi bapak ibu saya, ratna berarti intan atau permata, sari berarti inti, dan dewi berarti dewa perempuan. Doa mereka, saya akan tumbuh menjadi perempuan-perempuan pilihan yang berharga seperti permata. Saya aminkan saja. Ke sini-sini, saya akhirnya tahu bahwa Bung Karno menamakan salah satu istrinya, Naoko Nemoko yang seorang Jepang, Ratna Sari Dewi. Ketahuan akhirnya bahwa ayah saya seorang fans Soekarno, dan ibu saya suka sekali dengan nama Dewi.

Saya tidak pernah memikirkan lebih lanjut tentang nama saya itu. Begitu sampai di Amerika, saya melihat orang-orang di sini (juga ternyata di beberapa negara Eropa, Afrika, Asia misalnya Filipina) mempunyai tiga kata dalam namanya. Sebagian besar begitu. Biasanya, nama depan itu adalah nama pemberian, nama tengah itu biasanya nama ibunya atau nama kecil bapaknya, dan nama terakhir adalah nama ayah atau keluarganya. Bila sudah menikah, seorang perempuan akan mengganti nama ayahnya dengan nama suaminya. Tapi ada juga sebagian kecil yang tetap memakai nama keluarganya. Proses pergantian nama ini harus dilakukan secara legal, setidaknya di Amerika, melalui proses pengadilan dan membutuhkan uang yang tidak sedikit. Dalam penulisannya, biasanya mereka menyingkat nama tengahnya. Ambil nama saya sebagai contoh, dimana dalam konteks ini saya tambahkan nama bapak saya. Ratnasari Dewi Soetirto, akan ditulis Ratnasari D. Soetirto. Bila saya memakai nama suami saya, akan menjadi Ratnasari Dewi Azhari, atau ada juga yang menuliskan Ratnasari D. Soetirto-Azhari. Cukup ribet. Apalagi kalau seorang perempuan bercerai dan mau kembali ke nama gadisnya. Harus memakai proses yang sama juga Continue reading Tentang Nama

Menikah = Lari Marathon

ditulis 28 Juni 2006

Kesimpulan ini didapat dari obrolan-obralan panjang saya dengan seorang sahabat di masa-masa kuliah dulu bahwa menikah bisa dianalogikan dengan lari marathon, sebuah perjalanan yang cukup panjang. Lari marathon yang berasal dari zaman Yunani kuno dulu berjarak 40 km, jarak yang agak jauh bila ditempuh dengan berlari. Alkisah, serdadu Yunani PHEIDIPPIDES berlari dari Marathon ke Athena untuk mengabarkan kepada warganya bahwa mereka telah mengalahkan pasukan Persia dalam peperangan Marathon pada tahun 490 SM.

Kembali kepada persoalan menikah tadi. Menikah adalah sebuah proses perjalanan yang panjang. Maksud saya, bila berbicara menikah, umumnya berarti bicara soal kebersamaan dalam periode yang tidak sebentar. Seperti halnya lari marathon yang memerlukan kesiapan fisik dan mental sebelum mengikutinya, begitu pula ketika dua orang dengan pranata bernama pernikahan. Untuk berlari, diperlukan sepatu olahraga yang nyaman, bukan stiletto yang indah. Jadi, sepatu stiletto yang bagus dan mahal sekalipun tidak akan bisa dibawa lari marathon. Bila kita sudah bisa menemukan sepatu kets yang nyaman dipakai, pun ternyata kita masih harus tetap mempertimbangkan warnanya. Karena di kala berlari yang jauh, kita pasti akan melihat sepatu kita setiap saat. Warnapun harus memang yang kita suka. Continue reading Menikah = Lari Marathon

Sedikit Kisah Cinta

Pengantin Fesbuk, cover (courtesy of Genis Ginajar)
Pengantin Fesbuk, cover (courtesy of Genis Ginajar)

tulisan ini, karya saya, sudah dipublikasikan di buku karangan Dokter Genis Ginanjar, Pengantin Facebook. Dipublikasikan di blog ini dengan seizin penulis. Silakan kontak Dokter Genis Ginanjar (genislife@yahoo.com), untuk membeli. *promosi

sebuah pengalaman pribadi

Saya itu sempat tidak mau menikah. Sempat takut berkomitmen di bawah payung bernama pernikahan. Sampai saya bertemu suami saya ini.

Saya bertemu dengannya tahun 2005 di Banda Aceh. Ketika itu saya bekerja sekitar satu bulan di Aceh. Awalnya biasa saja. Tapi lama-lama jadi tidak biasa. Begitulah saya bisa menggambarkan bagaimana pertemuan saya dengan suami saya. Di waktu yang singkat, kami sepakat untuk saling mengenal dulu. Kami sempat berhubungan jarak jauh sekitar enam bulan sebelum akhirnya saya bisa mendapatkan kerja dan pindah ke Aceh.

Hampir tiga tahun saya menjalani proses pengenalan. Pacaran mungkin bahasa gaulnya. Untuk saya, penting sekali untuk setidaknya bisa mengenal karakter calon saya itu, walaupun tidak ada standar yang baku berapa lama sebuah pasangan harus saling mengenal sebelum menikah. Tapi buat saya, ini adalah syarat mutlak, karena saya tidak mau memilih kucing dalam karung. Memang mengenal adalah proses seumur hidup sampai mati, tapi setidaknya, saya memulai prosesnya dengan cara-cara yang saya dan dia percaya baik. Continue reading Sedikit Kisah Cinta