Mantan

Seorang mantan tiba-tiba kembali dekat dengan saya akhir-akhir ini. Entah kenapa, tiba-tiba jadi sering menelpon, membagi hidup, meminta saran, juga mengobrol dengan intens. Hal-hal yang dulu jarang saya lakukan dengan dia karena kami terpisah ribuan mil, kami berbeda negara. Saya yang ada di Indonesia dan dia yang belajar di Jerman. Komunikasi kami yang sangat terbatas toh akhirnya tidak membuat kami bertahan.

Saat ini, dirinya pun sudah kembali ke Indonesia. Walau masih juga dipisahkan laut, namun yang pasti, menelpon dia memakai pulsa lokal, bukan international. Menghubungi kembali juga kemudian menjadi pilihan. Bukan berarti kembali lagi pacaran seperti dulu, namun hanya hubungan pertemanan murni. Setidaknya begitulah pilihan saya. Continue reading “Mantan”

Virginitas

Bisa jadi, beberapa dari yang membaca judulnya pun sudah tertawa karena hal ini memang tidak ada habisnya menjadi sorotan. Yep, mengobrolkan hal yang satu ini memang sangat menarik, karena tidak pernah ada definisi baku mengenai hal yang konon diagung-agungkan masyarakat multi zaman.

Baru saja, saya berkirim pesan singkat dengan teman saya, yang kebetulan laki-laki. Dan lucunya membahas soal ini 🙂

Virginitas biasanya dikait-kaitkan dengan perempuan. Banyak orang yang menilai, virgin berhubungan dengan kesucian. Misalnya saja di Indonesia, laki-laki yang masih perjaka ataupun tidak seringkali masih mematok perempuan yang akan dinikahinya dari virgin ini. Dan tidak sedikit orang yang memasang standar perempuan “baik-baik” hanya dari sini. Misalkan saja, perempuan yang punya pekerjaan layak, gaji tinggi, terlihat mandiri dan chick, dapat tercoreng citranya hanya karena dia tadi lagi perawan. Hm, saya berpikir, betapa hebatnya selaput dara perempuan mengkontruksi sistem nilai di masyarakat. Continue reading “Virginitas”

Karena sudah kelamaan sendiri dan kemudian berdua

Baru saja, saya bertemu dengan seorang teman perempuan yang menjenguk datang menjenguk karena saya sedang sakit. Memang sangat enak berteman dengan perempuan dalam beberapa konteks karena mereka cenderung lebih peka akan hal-hal. Namun, saya tidak mengatakan bahwa tidak enak berteman dengan lawan jenis.

Teman perempuan saya ini bercerita bahwa dia sedang dekat dengan seorang pria. Lebih tepatnya, pria ini berkehendak ingin terus dekat dengan teman saya ini. Tampaknya, pria ini sedang PDKT (baca: pendekatan). Teman saya ini bilang, bahwa dia senang-senang saja didekati laki-laki. Ah siapa juga perempuan yang tidak suka bisa disuki laki-laki. Bahkan, jika kita perempuan tidak suka dengan laki-laki yang mendekati itu, tetap saja jauh di lubuk hatinya, perasaan keperempuanannya pasti senang. Anugrah Tuhan bukan, ketika ada orang yang menyukai kita? Continue reading “Karena sudah kelamaan sendiri dan kemudian berdua”

Merasa sendiri

Saya seringkali takut merasa sendirian. Saya tidak takut sendiri, tapi merasa sendirian bagi saya bukan hal yang menyenangkan. Padahal, saya selalu menganggap saya mandiri, saya bisa melakukan hal-hal sendiri. Namun, tetap saja, bila perasaan itu datang, saya tidak tahu mau sembunyi dimana.

Mungkin bukan sembunyi, tapi bagaimana mengatasinya. Hari ini, saya sedang sakit. Sudah dua hari tepatnya, flu berat ditambah batuk membuat demam datang. Akhirnya, tinggal di rumah menjadi satu-satunya pilihan. Saat ini, ada konser Ungu dan Samson, sebuah perpaduan yang menarik di kota kecil Banda Aceh ini. Pacar saya kebetulan juga sedang sibuk, maka laptop, radio di handphone, dvd dan buku menjadi teman baik saya. Continue reading “Merasa sendiri”

Para penumpang pesawat terbang

penumpangBelum lama ini, saya kembali ke Jakarta dari Banda Aceh menggunakan sebuah maskapai penerbangan nasional. Maskapai nasional yang selama ini masih digunakan karena tidak ada piihan lain yang relatif aman dan baik pelayanannya. Bukan berita baru, bahwa banyak maskapai di Indonesia yang kurang baik keamanan dan pelayanannya. Saya melihat perilaku-perilaku penumpang pesawat yang cenderung terburu-terburu. Seakan-akan, mereka bahkan tidak punya waktu untuk menghela nafas. Saya tidak membesar-besarkan. Misalkan saja, masuk ke dalam pesawat, seringkali saya melihat orang berebutan masuk; padahal pesawat masih butuh proses untuk memanaskan mesin dan bersiap-siap tinggal landas.

Di dalam pesawat, seakan-akan para penumpang takut tempat duduknya terisi oleh yang lain, maka seringkali mereka tidak mau menunggu penumpang di depannya yang sedang bersusah payah memasukkan bagasinya ke tempat penyimpanan di atas tempat duduk. Padahal, tetap saja, tidak sampai memakan waktu dua menit.

Alih-alih ngedumel, toh sebenarnya mereka bisa saja membantu. Setelah itu, orang-orang yang tahu bahwa barang-barang elektronik seperti handphone akan mengganggu persiapan penerbangan, mereka akan segera mematikan handphone. Yang kurang sadar, masih menekan tuts-tutsnya untuk membalas sms atau melanjutkan pembicaraan yang tertunda. Mereka baru akan mematikan alat-alat tersebut, setelah pramugari mengingatkan bahwa mereka akan segera lepas landas. Saya yakin, pasti ada beberapa orang yang lupa mematikan telepon genggamnya. Padahal, sinyal-sinyal telepon genggam dapat membahayakan penerbangan. Maka, lepas landaslah. Pada waktu-waktu ini, tidak terlihat perilaku orang-orang yang terburu-buru, toh pada saat ini kita hanya bisa menunggu pesawat sampai di tempat tujuan. Orang-orang biasanya memanfaatkan waktu untuk beristirahat, mengobrol, ataupun membaca buku.

Ketika pesawat baru saja menyentuh tanah, banyak orang yang serta merta membuka sabuk pengaman. Sudah ada aba-aba dari awak pesawat bahwa sabuk pengaman hendaknya baru dibuka setelah pesawat diparkir dengan sempurna, karena pada saat-saat inilah, sama seperti saat lepas landas, kondisinya sangat kritis. Tidak jarang, ada kasus pesawat tergelincir ketika akan parkir setelah mendarat. Pada penerbangan ini, saya juga melihat perilaku orang yang sangat tergesa-gesa. Dia berdiri dan akan mengambil barang, padahal pesawat belum berhenti. Toh, kalau pesawat tidak berhenti, dia pun tidak bisa turun. Setelah pesawat berhenti, orang-orang dengan tergesa-gesa berdiri, berebutan mengambil bagasi, dan lekas-lekas turun.

Manusia memang makhluk yang suka tergesa-gesa. Dan menunggu memang tidak menyenangkan. Namun, bukanlah kadang kita harus menghargai waktu dengan berusaha menikmatinya? Hanya beda beberapa detik saja, toh pesawat tidak akan pergi kalau memang belum siap dan penumpang tidak bisa turun bila pesawat belum berhenti. Saya hanya tersenyum heran, karena baru saja kepala saya terantuk barang milik orang yang dengan ceroboh mengambil barangnya dari atas tempat duduk saya. Tanpa mengucapkan maaf, lalu ngacir saja. Setergesa-tergesa itukah? Entahlah. Saya pun tidak habis pikir kenapa orang-orang tidak berusaha tenang dan santai bila naik pesawat. Apalagi, kalau perilku tersebut seringkali merugikan dan membahayakan penumpang yang lain. Karena saya tidak suka berebutan, maka seringkali saya merpersilakan orang-orang untuk duluan saja naik pesawat. Toh, saya masih berusaha menikmati waktu. 7 Februari 2007

(gambar diambil dari http://www.kompas.com

The forces of nature

8 Februari 2007

Nature, to be commanded, must be obeyed.
(Alam, untuk diperintah, harus ditaati)
Francis Bacon

Sebuah opini di Kompas, 6 Februari 2007 milik YF La Kahija (Merefleksikan Alam di Kala Bencana) yang memuat kutipan di atas membuat saya terhenyak. Ternyata untuk bekerja sama dengan alam, kita harus mentaati hukumnya. Melanggar hukum alam, berarti memusuhinya. Memusuhinya, berarti bunuh diri, karena manusia jelas-jelas bergantung kepada alam untuk dapat bertahan hidup. Mari bicara dalam konteks Indonesia saja. Alam memang tampak sedang mengamuk. Sejak Desember 2004, alam tampaknya belum “jinak” juga sampai sekarang. Bencana seakan tidak berhenti. Yang berhasil saya ingat adalah tsunami yang menghantam Aceh 26 Desember 2004. Dilanjutkan gempa bumi yang menguncang Nias. Lalu tsunami Pangandaran, gempa bumi yang meluluhlantakkan Yogyakarta, lumpur Lapindo Brantas, longsor di Mandailing Natal, dan banjir di Tamiang, Aceh Tengah. Yang terakhir adalah banjir yang sedang terjadi di beberapa daerah Indonesia, termasuk ibukota. Continue reading “The forces of nature”

Shut your mobile down while you’re in the craft

Mungkin banyak orang yang belum mengamini kenapa mereka harus mematikan telepon genggamnya dan sama sekali tidak boleh dinyalakan selama berada di dalam kabin pesawat terbang.

Pesawat terbang modern sangat bergantung kepada gelombang radio untuk menjalankan berbagai fungsi, termasuk komunikasi dengan menara kontrol, navigasi dan pengaturan udara di dalam kabin. Intervensi gelombang rdio yang berasal dari telepon genggam dapat mengacaukan fungsi-fungsi ini.

Pemakai telepon genggam mungkin tidak menyadari, bahwa dalam keadaan standby pun, telepon genggam tetap memancarkan sinyal elektromagnetis yang berfungsi memberitahu komputer di jaringan telepon selulernya bahwa telepon genggam tersebut di dalam keadaan aktif dan dapat dihubungi. Sinyal tersebut kan sekin kuat ketika pemancar di base terminal station (BTS) berkomunikasi dengan telepon genggam untuk menyampaikan panggilan ataupun mengirimkan pesan singkat (SMS). Continue reading “Shut your mobile down while you’re in the craft”

Awas Ya!!

Kekasihku,
Kau tidak akan kubiarkan sendiri
Ragaku bisa mati ketika tiba umurku
Fisikku pasti membusuk seiring tuaku
Tapi jiwaku abadi
Doaku tulus dan mumpuni

Maka,
kenapa kau harus tunggu selesai sesalmu
Baru kau datang padaku
kenapa harus kau usir rasa marahmu
Baru kau bersender di bahuku
Kenapa perlu kau manjakan sakit hatimu
Baru kau peluk aku

Padahal,
kau kan sudah tahu
Cintaku bukan cinta biasa
Cintaku tidak sederhana
Cintaku cinta keras kepala!!

Ah,
entahlah
Aku merasa dunia membelakangiku
Dan aku tidak mau kau ikut serta
Awas ya!

c)RDS, 161206 Banda Aceh
for better or worse

Pekerjaan domestik rumah tangga

Iya, pekerjaan domestik rumah tangga. Mencuci, menyetrika, memasak, menyapu, dan mengepel lantai adalah beberapa dari pekerjaan domestik rumah tangga. Masih menjadi bahasan yang menarik karena pekerjaan-pekerjaan ini tidaklah mudah, namun harus ada melakukannya. Dalam suatu rumah tangga, seringkali pendapat umum mengatakan, bahwa pekerjaan domestik rumah tangga adalah pekerjaan perempuan (baca: ISTRI, anak perempuan) namun bukanlah dipersepsi secara umum sebagai pekerjaan laki-laki (baca: SUAMI, anak laki-laki) atau pekerjaan non-gender (terserah dirimu lelaki atau perempuan, tapi kerjakan saja). Continue reading “Pekerjaan domestik rumah tangga”

HTS

Pernahkah Anda terjebak atau malah menikmati sebuah hubungan tanpa status (HTS)? Saya setidaknya pernah beberapa kali.

Apa sih sebenarnya HTS itu? Saya belum pernah melabelinya, tapi hts yang pernah saya lakoni dengan seorang laki-laki beberapa waktu silam itu lebih dalam dari sebuah persahabatan, tapi tidak berujung menjadi pacar.

Namun hubungan ini tidak bisa lagi dikategorikan sebagai teman, biasanya pasti lebih dari teman; tapi bukan juga pacaran, karena biasanya ga ada yang nyatain dan ga ada yang nerima/nolak seperti pacaran yang dipersepsi oleh orang-orang kebanyakan. Di dalamnya, juga dihiasi perasaan-perasaan berbau-bau sayang atau cinta, sedih bila dia pergi, senang bila dia ada. Perasaan-perasaan semacam itu lah.

Namun, kenapa orang memilih HTS? Tidak berusaha saja diresmikan atau disesuaikan dengan standar-standar yang dimiliki masyarakat? Bisa jadi, karena lawan hubungannya sudah resmi dengan orang lain (baca: Selingkuhan), karena tidak mau ada komitmen, atau tidak ada alasan apa-apa, merasa dekat dan cocok, tapi tidak juga mau menjadi “formal”. Atau mungkin ada alasan lain? Monggo saja, toh ini negara merdeka. Continue reading “HTS”