Obrolanku dan Matahari: Sebuah Prosa Lirik

Menyibakkan tirai jendela

Matahari Terbit (courtesy http://capjempol.files.wordpress.com)
Matahari Terbit (courtesy http://capjempol.files.wordpress.com)

Ketika sinar-sinar hangat menerpa muka
Aku sapa dengan lirih, “Matahari, selamat pagi”

“Selamat pagi,” sapanya kembali
“Eh, itu air mata apa?”

Aku malu-malu menyeka
Dan menjawab, “Ah bukan apa-apa, tidak perlu kuatir. Kamu aku, aku ini penangis”

Matahari itu berkata, “Iya, aku tahu. Senja sering bilang bahwa kadang dia memperhatikanmu
Ketika semburat nila ungu bercampur emas turun di ufuk barat, kamu seringkali terkagum
Lalu air matamu mengalir.

Pernah juga awan putih di langit Tuhan berbisik kepadaku
Ketika deru-deru pesawat terbang mendesah, dan kamu rindu sang kekasih,
kamupun sedang menangis.”

“Jadi,” kataku, “Kenapa kamu bertanya kalau kamu sudah tahu?”
“Karena,” jawabnya, “Aku yakin kali ini kamu itu sebenarnya sedang bahagia.” Continue reading “Obrolanku dan Matahari: Sebuah Prosa Lirik”

Aku Memanggil Semesta: Sebuah Prosa Lirik

Aku memanggil semesta
Ketika fajar mengufuk
Dan ayam berkokok
Seraya bertanya, “Semesta, apa kabarmu pagi ini?”
Dan dijawabnya, “Aku baik-baik saja. Baru saja aku paksa matahari bangun”

Aku memanggil semesta
Ketika perlahan matahari meninggi
Dan orang-orang mulai sibuk hidup
Seraya bertanya, “Semesta, apa kamu tidak pernah lelah?
Dan dijawabnya, “Lelah? Apa maksudmu?”
Akupun bersungut, “Sebentar, aku pikir dulu!”

Aku memanggil semesta
Ketika matahari menerik ada di atas kepala
Membuat tikus mondok kepanasan
Dan berbisik, “Maksudku, lelah mencinta dan menciptakan waktu. Kuharap kamu tau maksudnya”
Dia pun tersenyun, “Oh, kamu orang ke sekian juta yang bertanya itu”
Akupun bersungut lagi, “Jadi, apa tidak akan kamu jawab?”
Dia pun tersenyum lagi, “Ah, tenang, semua dapat cintaku yang sama.” Continue reading “Aku Memanggil Semesta: Sebuah Prosa Lirik”

The forces of nature

8 Februari 2007

Nature, to be commanded, must be obeyed.
(Alam, untuk diperintah, harus ditaati)
Francis Bacon

Sebuah opini di Kompas, 6 Februari 2007 milik YF La Kahija (Merefleksikan Alam di Kala Bencana) yang memuat kutipan di atas membuat saya terhenyak. Ternyata untuk bekerja sama dengan alam, kita harus mentaati hukumnya. Melanggar hukum alam, berarti memusuhinya. Memusuhinya, berarti bunuh diri, karena manusia jelas-jelas bergantung kepada alam untuk dapat bertahan hidup. Mari bicara dalam konteks Indonesia saja. Alam memang tampak sedang mengamuk. Sejak Desember 2004, alam tampaknya belum “jinak” juga sampai sekarang. Bencana seakan tidak berhenti. Yang berhasil saya ingat adalah tsunami yang menghantam Aceh 26 Desember 2004. Dilanjutkan gempa bumi yang menguncang Nias. Lalu tsunami Pangandaran, gempa bumi yang meluluhlantakkan Yogyakarta, lumpur Lapindo Brantas, longsor di Mandailing Natal, dan banjir di Tamiang, Aceh Tengah. Yang terakhir adalah banjir yang sedang terjadi di beberapa daerah Indonesia, termasuk ibukota. Continue reading “The forces of nature”