Senja Emasku

matahari terbenam, hari mulai malam. terdengar burung hantu, suaranya merdu..

Itu adalah baris lagu Matahari Terbenam (entah benar atau tidak judulnya dan entah siapa pengarangnya). Pastinya, aku adalah pecinta senja, beberapa jenak sebelum matahari kembali tidur di balik ufuk barat. Menurutku, itulah keadaan terindah langit. Pernahkah kau tak sengaja melihat langit, tepat di ujung sore dan di awal malam. Mungkin sekitar jam 5 sore. Jika kau beruntung, kau akan lihat semburat nila bercampur oranye tembaga keemasan menghiasi birunya langit.

Setiap hari, kita memang selalu bertemu senja, bahkan ketika saat hujan turunpun di saat langit gelap. Namun, campuran sempurna antara nila dan oranye tembaga keeamasan tidak setiap hari dapat kau lihat. Hanya ketika kau beruntung, kadangkala begitu.

Mengutip Seno Gumira*, setiap hari ada senja, tapi tidak setiap senja adalah senja keemasan, dan setiap senja keemasan itu tidaklah selalu sama. Senja begitu cepat berubah, memberikan pesona yang menghanyutkan, sebentar, lantas meninggalkan bumi dalam kelam. Senja begitu indah, tapi begitu fana — apakah segala sesuatu dalam kehidupan memang hanya sementara?

Entah kapan aku mulai memperhatikan senja, yang memang tidak pernah setia. Mampir sebentar, memberikan keindahan yang nyaris sempurna, namun cepat menghilang. Maka, bila kau belum pernah sejenak memperhatikan senja, lihatlah langit jam 5 besok sore. Kau akan temukan senja emasku, bila kau beruntung.

*dari Jazz, Parfume dan Insiden; salah satu karya terbaik Seno Gumira Ajidarma

Obrolanku dan Matahari: Sebuah Prosa Lirik

Menyibakkan tirai jendela

Matahari Terbit (courtesy http://capjempol.files.wordpress.com)
Matahari Terbit (courtesy http://capjempol.files.wordpress.com)

Ketika sinar-sinar hangat menerpa muka
Aku sapa dengan lirih, “Matahari, selamat pagi”

“Selamat pagi,” sapanya kembali
“Eh, itu air mata apa?”

Aku malu-malu menyeka
Dan menjawab, “Ah bukan apa-apa, tidak perlu kuatir. Kamu aku, aku ini penangis”

Matahari itu berkata, “Iya, aku tahu. Senja sering bilang bahwa kadang dia memperhatikanmu
Ketika semburat nila ungu bercampur emas turun di ufuk barat, kamu seringkali terkagum
Lalu air matamu mengalir.

Pernah juga awan putih di langit Tuhan berbisik kepadaku
Ketika deru-deru pesawat terbang mendesah, dan kamu rindu sang kekasih,
kamupun sedang menangis.”

“Jadi,” kataku, “Kenapa kamu bertanya kalau kamu sudah tahu?”
“Karena,” jawabnya, “Aku yakin kali ini kamu itu sebenarnya sedang bahagia.” Continue reading “Obrolanku dan Matahari: Sebuah Prosa Lirik”