Dewi Bicara JK

“A vision without action is just a dream. Action without vision is just a waste of time. a vision with action is able to change the world!” Neslon Mandela sebagaimana yang ditulis Suryapratomo, Pemred Kompas yang sekarang Direktur Pemberitaan Metro TV menggambarkan Jusuf Kalla sebagai pemimpin yang mampu mengubah dunia.

Saya seharusnya membaca tumpukan buku malam ini. Tapi saya tidak kuasa untuk tidak mengapresiasi buku “Mereka Bicara JK”. Daripada tidak konsen belajar, ada baiknya saya menulis saja.

Akhirnya saya mendapat buku ini. Adik saya mengirimnya dari Indonesia. Awalnya penasaran, karena Kompas.com memberitakannya dengan cukup provokatif yang membuat kepikiran terus. Alhamdulillah, walaupun lama datang, buku ini sampai juga di tangan saya.

Tebalnya 510 halaman, termasuk halaman indeks dan daftar isi. Sampulnya pun cukup sederhana, gambar mantan wakil presiden ke-10 Republik Indonesia, Bapak Jusuf Kalla. Berbalut kemeja putih, dengan kaca mata dan kumis khasnya, JK, begitu saya akan menuliskannya bertengger di sampul buku ini.

Adalah National Press Club of Indonesia (NCPI) yang memprakarasi terbitnya buku ini. Di halaman xi, organisasi ini memaparkan kenapa buku ini terbit. Ada dua alasan yang diusung. “Pertama, kami mencoba membuat tradisi mengapreasi masa tugas seorang pemimpin neger ini…. Kedua, dibanding Wapres-wapres yang dimiliki Indonesia sejak Republik ini berdiri, JK adalah orang pertama yang berasal dari kalangan saudagar dan itu melahirkan pedekatan tersendiri dalam hal ia memimpin…. Ketiga sebagai indvidu, JK adalah pribadi yang terbuka dan cenderung membebaskan diri dari segala aturan protokoler…. Meminjam istilah Fahmi Idris, bagi JK etika bisa nomor lima atau 15, yang nomor satu adalah kinerja.”

Alasan yang sungguh membuat saya mengerenyutkan dahi.

Buat saya, ini menarik sekali. Seorang pedagang non-Jawa bisa jadi wakil presiden. Dia memang bukan wapres pertama non-Jawa. Seingat saya, Bung Hatta juga bukan orang Jawa. Saya bukan rasis ataupun sukuisme, tapi tidak bisa dipungkiri, ini terjadi. Saya pernah terlibat pembicaraan kecil dengan Ibu saya ketika pemilu 2009 berlangsung. Saya bilang dari Amerika, “Ibu, sebaiknya memilih Pak JK saja. Sudah waktunya sipil memimpin.” Ibu saya menjawab, “Ibu masih percaya militer memimpin bangsa, lagipula dia bukan orang Jawa.”

Ibu saya adalah satu gambaran dari rakyat Indonesia hari ini yang masih punya ingatan masa lalu bahwa akan lebih aman bila militer memimpin bangsa. Ini tidak salah. Tapi lambat laun saya percaya, bahwa untuk kemakmuran bersama, ada baiknya sipil diberikan kesempatan memimpin. Saya percaya, bahwa tugas militer adalah untuk menjaga keutuhan NKRI dari sudut pengamanan. Ibu saya juga korban pencitraan. Bahwa seorang pemimpin harus tinggi, besar, ganteng, simpatik, dan sebagai-bagainya, terlepas bagaimana gaya kepemimpinannya dan caranya bekerja. Namun, Ibu saya dan juga jutaan rakyat Indonesia, termasuk saya, harus belajar keluar dari zona kenyamanan. Ibu saya pernah bilang sudah terbukti sipil tidak bisa. “Liat Pak Habibie, Pak Gus Dur, dan Bu Megawati,” kata Ibu saya. Namun, saya masih percaya, bahwa kalau rakyat mendapat pendidikan politik yang benar dan lengkap, mereka bisa belajar bahwa sipil hanya harus dipercaya dan diberi kesempatan.

Sayang sekali sejarah saya buruk. Kawan-kawan saya di sini (Little Rock, USA) pernah bilang, mungkin Indonesia bisa belajar dari negara yang dulu berbasis militer dan sekarang berbasis sipil. Semakin tua saya semakin percaya bahwa bila sipil memimpin, negara akan semakin makmur dan stabil.

Kembali ke buku ini lagi. Buku yang membuat saya menangis terharu berkali-kali. Saya memang mudah menangis, tapi jujur saya terbawa sekali dengan buku ini. Seperti menjawab harapan saya bahwa ada seorang sipil yang punya kemampuan cukup lihai memimpin bangsa dengan langkah-langkah taktis. Saya rindu masa-masa itu, yang dulu sudah di depan mata, tapi lenyap ditelan kebodohan masyarakatnya.

Membaca lima bab besar buku ini, membuat saya terperangah akan cara-cara Pak JK ketika jadi wapres dulu. Saya sempat meragukan beliau, karena saya juga korban pendidikan politik yang terbelakang dan kecuekan saya sebagai warga negara. Saya kenal Pak JK hanya sebagai pedagang, menteri, dan resolutor konflik. Tidak tahu betul bagaimana sepak terjangnya. Betul sekali kata pepatah bahwa tak kenal maka tak sayang. Yang membuat saya pernah takjub adalah kemampuannya mendamaikan Malino. JK yang bukan orang Ambon tapi berhasil membuat kedua belah pihak yang bertikai berdamai. Proses yang panjang, tapi JK yang tidak punya latar belakang ilmu resolutor konflik ala sekolahan bisa membuat ini terjadi.

Ada sekitar lebih dari 60 nama yang diwawancara NPCI. Mereka berasal dari kalangan politisi, aktivis perdamaian, duta besar, pengusaha, wartawan, keluarga, dan ajudan. Ada yang ditulis sendiri, ada yang di wawancara. Saya akan menceritakan beberapa bait cerita yang paling berkesan buat saya.

Pelda Marinir Perantau Jaya di halaman 475 adalah seorang supir VVIP. Pelda sudah menjadi supir wakil presiden sejak dari zaman Sudharmono sampai Jusuf Kalla. Hal ini membuat dia menjadi yang paling senior di antara supir-supir wakil presiden yang lain. Yang membuat saya terkesan adalah selera musik JK yang digambarkan Pelda, “Pagi Elshinta, siang Keroncong, malam Instrumentalia.” Di halaman 476 dia menulis, “Pak JK tidak pernah komplain dengan musik yang saya pasang, bahkan Pak JK terkadang ikut menyanyi jika cocok.”

Lain lagi cerita Brigjen Pol. Syafrudin, mantan Kapolres Jakarta Timur yang menjadi ajudan JK. Berikut petikan cerita lucu halaman 450. “Beliau langsung masuk mobil tanpa berpikir ada ajudan atau tidak. Jadi beliau yang menunggu saya. Pernah juga, suatu ketika saya sudah lapor bahwa kita berangkat setengah sepuluh. Tapi beliau turun setengah sepuluh kurang 10 dan langsung masuk mobil, sementara saya – yang memperhitungkan waktu masih 10 menit lagi – sedang ke kamar mandi. Jadilah beliau menunggu saya.” Kebayang kalau saya tukang mepet-mepet ini jadi BrigPol Syafrudin. Mungkin sudah dimarahi.

Mendalami lagi, ada tulisan Solihin Kalla. Anak JK ini mengatakan dengan gamblang di halaman 426, “Bapak selalu mengatakan bahwa bangsa ini harus mandiri, harus bisa maju sendiri.” Saya jadi membayangkan, jangan-jangan negara ini terus miskin karena tidak punya harga diri bahwa kita bisa mandiri dan dan bisa maju tanpa bergantung bantuan luar negeri. Kurang apa Indonesia, kaya raya sumber daya alam dan manusia. Tinggal orang-orang dididik untuk punya harga diri, bahwa dia tidak kalah dengan bangsa-bangsa yang berambut kuning dan berkulit putih, dan bisa bahasa Inggris itu.

Ipang Wahid, Direktur Eksekutif Fastcomm Integrated Communications pernah bimbang ketika ada tawaran membuat iklan untuk JK atau SBY-Boediono. Pilihannya jatuh untuk membantu JK ketika melihat tokoh-tokoh nasional seperti Syafi’I Maarif, Hasyaim Muzadi, Kwik Gian Gie, mau memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pak JK (halaman 412). Berikut apa yang membuatnya jatuh cinta, “… JK adalah sosok yang menggagumkan karena ternyata sosok pak JK-lah yang selama ini menjadi sumber ide di balik berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai pro rakyat. Ternyata JK-lah yang selama ini menjadi motor penggerak pemerintahan. Fakta yang selama ini hanya diketahui sebagian kecil saja masyarakat Indonesia”. Saya juga pernah terkejut mendengar Syafi’i Maarif berkata bahwa JK is the real president! Saya tidak terlalu mengerti sampai JK turun dan saya melek informasi. Saya terlambat. Menyebalkan.

Wartawan yang belakangan menjadi politisi Meutya Viada Hafid menceritakan bagaimana JK berkampanye. Di halaman 392 dipaparkan, “Di Papua misalnya, saya selaku moderator dalam diskusi JK dengan warga Papua sempat kaget karena JK ingin memilih sendiri para penanya, padahal untuk alasan keamanan beberapa penanya sudah disaring sebelum beliau datang. Beliau paling tidadk senang jika penanya sudah disiapkan. Akhirnya, setelah kejadian itu, kami tidak pernah lagi menjaring pertanyaan. Masyarakat bebas bertanya apa saja dalam kampanye-kampanye Pak JK”. JK berusaha menghilangkan gaya ABS-asal bapak senang, yang sudah mendarah daging di banyak oknum orang-orang di pemerintahan. Ini kadang membuat pemimpin yang tidak bisa “melihat” main percaya saja.

Jaka Surya wartawan LKBN Antara memulai ceritanya dengan ucapan, “Dasyat!” Ini yang membuat saya miris, “Selama ini masyarakat seolah sudah dicuci otak. Hanya asing yang mampu. Asing yang hebat. Kita tak ada apa-apanya. Memang memalukan sebagai sebuah bangsa yang bermartabat” (halaman 349). Dalam tulisannya Jaka memaparkan bagaimana JK berhasil membangun Bandara Internasional Sultan Hasanuddin menjadi mahakarya anak bangsa pertama, dengan biaya cukup murah hanya 1,5 T (halaman 350). Bayangkan bahwa uang 6,7T yang digondol Century bisa membuat setidaknya 4 bandara. Luar biasa.

Soal konflik Aceh, JK punya pandangan yang juga luar biasa, bahwa “Perang dan damai ada ongkosnya. Tapi damai jelas tidak ada korbannya. Dan ongkos damai lebih murah dibandingkan ongkos perang” (masih di halaman 350). Bahkan Nezar Patria, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen Indonesia menambahkan di halaman 301, “Perundingan Helsinki itu selesai dalam tempo tujuh bulan. Bagi Aceh yang lama tenggelam dalam perang, perdamaian mungkin adalah sebuah penemuan. Mereka mengenang Kalla, pemimpin yang membuat perdamaian sebagai sesuatu yang tak lagi mustahil”. Namun, di bulan Juni 2009, ketika saya baru sampai Amerika, saya tidak habis pikir, JK kalah telak di Aceh. Ironis.

Saya merinding. Menangis lagi. Ah.

Masih saya tidak habir pikir ketika Rosihan Anwar, wartawan senior menulis di halaman 275. “Sabam Siagian menyinggung soal hubungan SBY dan JK. Mula-mula bicara SBY kalem dan terkendali. Tiba-tiba waktu berbicara tentang sifat JK, sikap SBY berubah jadi emosional. Dia mengatakan bagaimana JK sejak semula selalu mengikuti dengan ketat tiap langkah dan perbuatannya. Ekspresi wajah SBY saat mengatakan kata-kata tadi serta tubuhnya memperlihatkan bagaimana SBY sudah cukup dengan JK (saya ubah sedikit dari aslinya, biar agak lembut)”

Ini politik, Wi. Jangan menangis!

Saya belum baca apa yang ditulis para politisi. Tapi saya jelas-jelas terharu membaca buku ini. Saya yang bodoh, naïf, tidak melek informasi. Saya yang mestinya bisa ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa terutama soal pendidikan politik. Saya yang bodoh ini.

Jusuf Kalla bukan malaikat. Dia juga bukan nabi, apalagi kok Tuhan. Namun dia adalah manusia yang percaya bahwa semua orang punya hak untuk hidup yang layak di dunia ini. Hidup layak, hidup mandiri, bersama-sama.

Masyarakat harus disadarkan untuk tidak lupa pada sejarah, bahwa bangsa ini besar karena mampu mengusir Belanda dan Jepang, serta hidup relatif damai dengan lebih dari 500 suku bangsa dan 700 bahasa. Bangsa ini besar karena kita kaya raya. Kita bisa maju, bisa bersaing, dan yang paling penting, bisa punya harga diri. Tidak jadi bangsa mental budak dan pengemis.

Masyarakat harus bisa membedakan mana pemimpin yang memang betul-betul punya visi dan bisa mengubah visi menjadi aksi. Ini tugas saya, anda, dan siapapun yang perduli untuk mercerdaskan kehidupan bangsa. Agar melek huruf. Agar bisa membaca. Agar bisa punya harga diri. Dan bisa sejahtera.

Saya terhenyak lagi. Bahwa ternyata hanya sekitar 5% rakyat Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi atau universitas. Beberapa di antaranya di luar negeri tidak mau kembali lagi. Bahwa yang belum melek huruf masih sekitar 20% lagi.

Ini bukan hanya tugas pemerintah. Ini tugas semua orang. Semua yang peduli. Saya takut Indonesia hanya tinggal sejarah, bisa kita tidak mulai lagi bergerak hari ini. Bergerak untuk membuat yang miskin bisa makan, yang di pinggiran bisa sekolah, yang buta huruf jadi melek huruf, yang punya anak sakit bisa diobati, dan yang belum sejahtera bisa sejahtera. Saya sungguh tidak tega.

Jalan masih panjang. Tugas berat di depan mata. Bisa dimulai hari ini, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari hal kecil (kata AA Gym).

Karena Indonesia Raya adalah tempat lahir saya dan orang-orang yang saya cintai dengan segenap hidup saya. Karena Bung Karno pernah berkata, “Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita”

Little Rock, 5 Maret 2010 03:05AM
semoga saya tidak mati muda dan bisa ikut serta menjadi bagian dari solusi baik Indonesia

Mereka Bicara JK
Mereka Bicara JK

3 Replies to “Dewi Bicara JK”

  1. semoga saya tidak mati muda dan bisa ikut serta menjadi bagian dari solusi baik Indonesia….
    heheheh…..bahasanya keren banget mb….amien2 deh mb dewi,,,,
    smoga apa yang mb cita2kan bisa segera tercapai,,,,amieeennnn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *