Kecanduan Perang

Buat yang belum nonton, saya menyarankan agak hati-hati membaca ini, bisa jadi berisi sedikit sinopsis yang mungkin bisa mengganggu ketika belum menonton filmnya.

“The rush of battle is a potent and often lethal addiction, for war is a drug”
Dari buku War Is a Force That Gives Us Meaning, yang ditulis koresponden NY Times Chris Hedges.

Perang bagi Amerika, setidaknya menurut Hedge, adalah ibarat candu. Sebuah pernyataan kuat dan provakatif, setidaknya buat saya ketika menonton film terbaik Oscar 2010, the Hurt Locker.

The Hurt Locker
The Hurt Locker

Film ini menarik dari beberapa segi, salah satunya karena film perang ini disutradarai oleh seorang perempuan bernama Kathryn Bigelow, janda sutradara James Cameron yang film spektakulernya Avatar tidak menang pada Oscar kali ini. Untuk saya pribadi, film ini menarik karena mencoba objektif memperlihatkan bagaimana para penjinak bom anggota militer Amerika Serikat bekerja di Irak. Film ini “berusaha” tidak “memihak” Amerika atau Irak, tapi lebih menggambarkan keadaan yang terjadi di kala itu. Film ini juga membuat saya lebih menyadari lagi tugas berat para tentara di medan laga yang berperang dengan tugas yang sama sekali tidak mudah atas nama “patriotisme” membela kepentingan bangsanya.

Mengambil tempat perang Irak di tahun 2004, film yang skenarionya ditulis oleh Mark Boal, mengisahkan tentang para penjinak bom yang tergabung dalam pasukan U.S Army Explosive Ordnance Disposal (EOD). Fokus film ini sendiri adalah pada kisah tiga orang di tim tersebut: Sergeant First Class William James (yang dimainkan dengan apik oleh Jeremy Renner), Sergeant J.T. Sanborn (dimainkan Anthony Mackie), dan Specialist Owen Eldridge (dimainkanBrian Geraghty). James datang menggantikan Staff Sergeant Thompson yang mati ketika sedang menjinakkan bom. Continue reading “Kecanduan Perang”

Melihat Swiss dari Dekat

His Excellency Urs Ziswiler, Ambassador of Switzerland for the U.S.
His Excellency Urs Ziswiler, Ambassador of Switzerland for the U.S.

Apa yang pertama kali terlintas dalam benak Anda ketika kata Swiss disebut?
Tentu saja dengan mudah Anda akan mengucapkan:
“coklat, jam tangan, keju, bank, dan bankir.”

Itu adalah kata-kata pembuka dari pidato pengenalan Duta Besar Swiss untuk Amerika Urs Ziswiler yang diucapkan kawan sekelas saya, Cory Biggs. Ada benarnya kata-kata Cory ini. Saya pun langsung membenarkan apa yang Cory bilang. Saya ternyata cuma baru tahu itu dari Swiss.

Duta Besar Ziswiler (selanjutnya akan saya singkat DBZ) memulai satu jam kuliah umumnya di Clinton School, Selasa malam 16 Maret 2010, dengan mengatakan kenapa orang-orang tidak begitu kenal Swiss. Bisa jadi karena sepak terjangnya di dunia internasional kurang begitu kedengaran bila dibanding dengan negara Eropa yang lain. Alasan DBZ untuk situasi ini adalah karena Swiss mempunyai sistem politik yang lambat. Saya baru tahu bahwa sistem politik di Swiss adalah demokrasi langsung, mereka mengadakan referendum untuk semua yang bisa direferendumkan, termasuk pelarangan pembangunan kubah mesjid (baca: kubah yang ada lambang bintang dan bulan, bukan mesjid itu sendiri karena Swiss mempunyai setidaknya 200 buah mesjid) yang diberlakukan baru-baru ini. DBZ mengemukakan fakta yang menarik bahwa saking lambatnya, Swiss baru memberikan hak pilih kepada kaum perempuan di tahun 1973, atau kalau hari ini adalah tahun 2010, maka itu baru 27 tahun yang lalu. Indonesia jauh lebih maju karena perempuan sudah punya hak pilih di pemilu pertama kalinya di Indonesia tahun 1955. Namun, lambat bukan berarti tidak menuju sempurna. Buktinya, Swiss hari ini mempunyai presiden perempuan, juru bicara negara perempuan, dan 30% anggota parlemen perempuan. Luar biasa. Bahkan Amerika yang konon demokratis masih tidak bisa punya presiden perempuan, dan butuh puluhan pemilu untuk punya presiden kulit hitam. Tapi itulah “demokrasi” ala Amerika. Continue reading “Melihat Swiss dari Dekat”

Jilbab Saya Diperiksa (Lagi)

“Mam, could you please step aside this way?” an officer said.
“Why? The security door alarm didn’t beep!” I replied.
“It’s your scarf, Mam. We need to screen it,” she explained.

Sudah tiga kali dalam satu bulan terakhir ini. Tadinya saya mau bersikap biasa saja, tapi setelah dipikirkan lagi, ternyata ini agak menjengkelkan.

Peristiwa pertama terjadi di Bandara Little Rock, Rabu 24 Februari 2010. Saya akan pergi ke San Francisco untuk menghadiri seminar Fulbright di sana. Ketika saya melewati pintu detektor, alarm berbunyi. Padahal saya sudah tidak memakai gesper, tapi tetap saja. Bisa jadi ini bros dan peniti yang saya pakai. Petugas perempuan datang. Dengan sopan dia bilang bahwa dia harus memeriksa saya lebih seksama. Dia menawarkan saya untuk diperiksa di tempat atau pergi ke kamar khusus. Saya lebih suka diperiksa di tempat, karena saya tidak tahu apa yang akan terjadi bila harus diperiksa di kamar khusus. Lagipula saya pikir, orang-orang Amerika harus tahu apa yang dilakukan pemerintahnya terhadap perempuan muslim di negara yang konon adalah negara demokrasi itu.

Peristiwa kedua terjadi di Bandara Internasional San Francisco, hari Senin pagi tanggal 1 Maret 2010. Saya dalam perjalanan menuju Little Rock. Seperti biasa, saya lewat pintu detektor lagi. Hari itu masih pagi. Saya masih mengantuk ketika petugas berkata, “Mam, I need to screen your scarf. Do you mind that?” Dalam hati saya berkata, “Ah, kalau saya bilang tidak boleh, pasti saya akan dapat masalah.” Jadi karena masih pagi dan saya tidak punya energi, saya bilang, “Please!” Tentu saja tidak ada apa-apa, kecuali bila peniti itu juga jadi masalah.

Peristiwa ketiga terjadi hari Rabu kemarin, tanggal 10 Maret 2010 di bandara Houston, ibukota negara bagian Texas. Alarm jelas tidak berbunyi. Tapi tanpa minta izin, petugas itu bilang,“Mam, please go this side.” Saya bertanya, “But the alarm obviously didn’t beep!” Dijawab lagi, “It’s your scarf. I need to screen it.” Saya cemberut. Ingin berantem, tapi masih jam 6 pagi. Saya mengantuk karena baru tidur 3 jam saja. Dia minta saya meraba jilbab saya. Lalu dia mengambil tissue dan menyeka tangan saya. Dia lalu memeriksanya di sebuah mesin. Dan lalu kembali mendatangi saya dan berkata, “Thank you, Mam.”

Saya benar-benar tidak habis pikir. Dua orang kawan saya, perempuan kulit hitam dan laki-laki kulit putih bilang, “Sabar ya, Wi.” Saya cuma tersenyum saja. “Ini sudah tiga kali,” saya jawab. Dan bisa jadi ini belum yang terakhir. Saya tidak masalah diperiksa bila memang alarm-nya bunyi. Tapi bila tidak, ini buat saya adalah diskriminasi.

Pengamanan di bandara-bandara Amerika memang jadi meningkat terutama setelah ada laki-laki Islam asal Nigeria ingin meledakkan pesawat yang menghubungkan Inggris dan Detroit, Amerika Serikat. Beritanya bisa dibaca di sini. Saya setuju bahwa mereka harus memperketat pengamanan karena semua pemerintah wajib melindungi keselamatan negaranya. Tapi saya yakin ada cara yang lebih elegan untuk memeriksa semua orang yang dianggap mencurigakan di bandara tanpa mengurangi rasa hormat. Continue reading “Jilbab Saya Diperiksa (Lagi)”

Beasiswa itu Mudah

silakan dibagi kepada orang lain dengan mencantumkan atau men-tag Dewi Greenjo

Ih Wi, hebat banget si loe bisa dapat beasiswa!!!

Ucapan itu keluar dari setidaknya dari beberapa orang ketika mendengar saya mendapat beasiswa Fulbright untuk melanjutkan S2 ke Amerika. Beberapa orang mengucapkan selamat sambil terus bilang kata-kata di atas.

Buat saya, mendapat beasiswa adalah hal yang lumrah saja karena selama Indonesia masih menjadi negara berkembang, negara-negara maju akan memberikan bantuan beasiswa ini. Jadi, kalau gigih berjuang dan cerdas berusaha, beasiswa hanya tinggal masalah waktu.

Untuk saya begitu. Tidak banyak orang yang tahu bahwa ini adalah percobaaan ketujuh saya untuk mendapat beasiswa. Setelah mendapat enam kali pelajaran berharga, saya akhirnya lolos juga. Dan tidak tanggung-tanggung, saya mendapatkan beasiswa yang selama ini dianggap orang sangat prestisius dan susah. Bangga? Tentu saja. Keluarga dan suami saya masih terus memperlihatkan betapa bangganya mereka. Tapi setelah itu, lama-lama saya anggap beasiswa ini adalah amanah Tuhan yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Karena bukan main-main mendapat beasiswa. Saya punya tanggung jawab moral untuk kembali ke tanah air dan mengamalkan ilmu yang saya dapat di belahan bumi Tuhan yang lain. Continue reading “Beasiswa itu Mudah”

Dewi Bicara JK

“A vision without action is just a dream. Action without vision is just a waste of time. a vision with action is able to change the world!” Neslon Mandela sebagaimana yang ditulis Suryapratomo, Pemred Kompas yang sekarang Direktur Pemberitaan Metro TV menggambarkan Jusuf Kalla sebagai pemimpin yang mampu mengubah dunia.

Saya seharusnya membaca tumpukan buku malam ini. Tapi saya tidak kuasa untuk tidak mengapresiasi buku “Mereka Bicara JK”. Daripada tidak konsen belajar, ada baiknya saya menulis saja.

Akhirnya saya mendapat buku ini. Adik saya mengirimnya dari Indonesia. Awalnya penasaran, karena Kompas.com memberitakannya dengan cukup provokatif yang membuat kepikiran terus. Alhamdulillah, walaupun lama datang, buku ini sampai juga di tangan saya.

Tebalnya 510 halaman, termasuk halaman indeks dan daftar isi. Sampulnya pun cukup sederhana, gambar mantan wakil presiden ke-10 Republik Indonesia, Bapak Jusuf Kalla. Berbalut kemeja putih, dengan kaca mata dan kumis khasnya, JK, begitu saya akan menuliskannya bertengger di sampul buku ini. Continue reading “Dewi Bicara JK”

Menuhankan senjata di Kota Tuhan: City of God

“Elo harus nonton film itu, Wi! That’s one of the best ones.”

Saya masih ingat kata-kata Agung Harsya Wardhana sahabat saya dan juga kawan saya nonton itu. Setelah sekian lama, akhirnya saya nonton juga. City of God (Cicade de Deus), sebuah film berbahasa Portugis keluaran tahun 2002. Film ini adalah sebuah karya duo sutradara Fernando Meirelles dan Katia Lund yang diadopsi dengan apik oleh Braulio Mantovani dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Paulo Lins yang terbit di tahun 1997. Menjadi lebih menarik karena novel ini diinspirasi sebuah kisah nyata.

Film ini dibuka dengan segerombolan pemuda mengejar ayam yang ketakutan karena akan dipotong. Seekor sebelumnya telah dikuliti. Mungkin karena takut, ayam yang masih hidup ini lari. Segerombolan pemuda dengan sejata lantas mengejar ayam ini, ketika seorang fotografer muda bernama Rocket ada di tempat kejadian itu. Tiba-tiba dari arah berlawanan, mobil polisi datang. Namun jumlahnya kalah banyak. Daripada mati konyol, polisi ini pun lari meninggalkan arena sampai akhirnya sebuah letusan senapan terdengar. Continue reading “Menuhankan senjata di Kota Tuhan: City of God”

Belajar dari Bill Clinton

Ngobrol dengan Presiden Clinton (koleksi pribadi)

Saya bertemu Presiden Clinton! Jumat, 20 November 2009 bisa jadi salah satu hari yang bersejarah dalam hidup saya. Siang itu, saya bercakap-cakap dengan President Clinton bersama rekan-rekan sekelas. Tiga jam lamanya, sekitar 40an mahasiswa Clinton School for Public Service, sekolah yang dibangun atas namanya, bisa bertanya jawab dengan presiden Amerika ke-42 ini.

Terlahir tanggal 19 Agustus 1946, William Jefferson Clinton adalah salah satu presiden termuda di Amerika. Menurut Wikipedia, dia adalah presiden termuda ketiga setelah Theodore Roosevelt dan John F. Kennedy ketika terpilih dan masuk istana. Satu yang tidak bisa saya lupa, Presiden Clinton pernah bertemu Presiden Kennedy ketika dia masih kuliah. Presiden Kennedy pun bilang bahwa Bill akan jadi presiden kelak. Ramalan yang tepat, atau bisa jadi ini adalah ramalan yang dipenuhi sendiri. Continue reading “Belajar dari Bill Clinton”